The Way I Used To Be - Amber Smith

Judul : The Way I Used To Be
Pengarang : Amber Smith
Penerbit : Penerbit Spring
Tebal : 392 halaman 20 cm
ISBN : 978-602-6682-04-8

Sinopsis :
Eden Mccorey adalah anak yang baik. Masa SMA sama sekali tidak mengubahnya. Namun malam saat dia diperkosa oleh sahabat kakaknya, mengubah segalanya.

Kehidupan yang tadinya sederhana menjadi sangat rumit, apa yang tadinya dia suka kini dia benci, apa yang tadinya dia pikir benar ternyata adalah sebuah kebohongan besar. Tidak ada yang masuk akal lagi.

Eden berubah menjadi seorang yang kacau. Eden harus memberitahu seseorang tapi dia tidak bisa. Dia malah mengubur rahasia itu dalam-dalam.

Namun saat ada orang yang benar-benar peduli, akankah Ia tetap memilih diam?
---

Buku ini saya beli dengan ekspektasi saya pasti akan menyukainya, menjadi salah satu favorit. Tetapi ternyata tidak.

Buku yang bagus menurut saya adalah buku yang bisa membuat saya menangis. Dan saya pikir buku ini akan membuat saya menangis. Tetapi ternyata tidak!

Di bab awal, masalahnya sudah langsung disajikan yang menjadi dasar perilaku Eden dalam cerita. Selama membaca, saya marah dan kesal bagaimana dia diperlakukan tidak adil seperti itu dan dia memilih diam, dia memilih takut akan ancaman yang diberikan kepadanya. Takut dibunuh kalau dia berbicara.

Saya tidak sampai habis pikir kenapa dia masih takut dibunuh setelah diperlakukan demikian, kalau memang harus mati paling tidak dia membuka suaranya agar si pelaku mendapatkan imbalan yang setimpal, paling tidak akan menimbulkan efek jera. Karena hukuman apapun tidak akan pernah bisa setimpal untuk hal ini. Oh... Yang paling penting adalah perbuatan tidak benar dan kamu adalah korban, so Speak your mind Eden!!!

Dan Eden tidak melakukan itu dan sepanjang membaca buku ini saya terheran-heran kenapa dia begitu bodohnya, percaya dengan sugesti bahwa tidak akan ada orang yang percaya padanya!!! (Apa aku menggunakan tanda seru lagi? Yup! 😡😡😡)

Eden memilih menghancurkan hidupnya, bersikap tidak perduli, mati rasa, empati dan masa bodoh! Dia melakukan itu berulang-ulang, menyakiti orang-orang yang benar-benar peduli padanya. Dengan bertingkah begitu, Eden berharap dapat melupakan peristiwa itu, walau hanya sejenak.  Namun kenangan buruk itu akan kembali dan selalu kembali menghantuinya bahkan membuat jijik pada dirinya sendiri.

Saya menunggu titik balik Eden, bersabar dengan semua tingkah lakunya.

Eden memilih mendiamkannya bahkan sampai 3 tahun, dan apa yang terjadi selama rentang waktu itu, dia merusak diri sendiri dan si pelaku bebas mengulang lagi perbuatan yang sama.

Ketika momen itu tiba, ketika pengakuan itu tiba, walau berat (aku tahu) untuk berbicara, entah kenapa saya masih kesal. Eden sadar semuanya masih tetap sama, bumi masih berputar, matahari masih bersinar. Jadi kenapa dia tidak melakukannya dari dulu!!!

Jadi ketika kamu membuka suara walaupun kamu diancam, namun ketika kamu bersuara itu akan mengubah keadaan. Walaupun dia tidak mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang kamu rasakan dan pasti itu tidak akan sama, paling tidak kamu memberikan Efek Jera kepada orang tersebut. Dan poin pentingnya adalah kamu korban! Tidak ada alasan apapun yang membuat pembenaran untuk perbuatan sekeji itu.

Buku ini ditujukan bagi mereka yang takut untuk membuka suara. Pada akhirnya saya mengerti tidak semua orang berani mengungkapkannya, mungkin malu dan seperti Eden, takut? Jadi saya cukup bisa menerima buku ini. Jelas bukan Favorit saya, karena sepanjang membaca saya malah kesal dan marah!

Rating : 3⭐

Komentar

Postingan Populer