The Giver - Lois Lowry
Judul : The Giver
Pengarang : Lois Lowry
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 232 halaman
ISBN : 978-602-03-0668-1
Buku ini bergenre Utopia, dimana pada masa depan, diceritakan sebuah komunitas yang sengaja membangun sebuah dunia yang diisolasi dari hal-hal yang dianggap berbahaya. Cuaca, ketersediaan pangan semua diatur. Emosi adalah yang terutama. Cinta adalah hal yang terlarang. Hidup dalam keseragaman menjadi pilihan mereka.
Para tua-tua membuat larangan-larangan dan batasan-batasan yang berlaku dalam kehidupan mereka. Mereka diawasi dengan ketat dan diajar tegas bahwa semua yang ada diluar aturan mereka tidak baik. Mereka bahkan meminum semacam obat untuk menumpulkan hormon-hormon yang memicu rasa ingin tahu mereka. Keseragaman adalah identitas mereka.
Sistem yang dibangun oleh komunitas ini, diatur sedemikian rupa. Pada kelompok umur tertentu, seseorang diberi dan dipilihkan apa-apa saja yang sudah layak diterima. Bahkan pasangan hidup. Pada umur 12 dengan sebutan kelompok 12, anak-anak akan diberi penugasan yang akan menjadi karier mereka selama hidup. Ada yang dipilih menjadi pengasuh, asisten penetasan ikan, Ibu Kandung (bertugas melahirkan bayi-bayi, dan hanya mereka yang diperbolehkan!), Instruktur, Insinyur atau Hukum dan Peradilan. Para tetua memperhatikan bakat dan minat mereka sejak masuk ke kelompok 8 dimana anak-anak diharuskan memulai jam-jam sukarela di berbagai tempat-tempat untuk melihat dan mencari tahu bakat dan minat mereka yang menjadi dasar pemilihan penugasan mereka nanti saat masuk ke kelompok 12.
Namun 1 orang akan dipilih untuk menerima latihan khusus dari Sang Pemberi atau The Giver. Selama ini Sang Pemberi memegang ingatan akan emosi sejati, kenangan masa lampau dan kenikmatan hidup yang sebenarnya. Oleh karena itu untuk generasi selanjutnya Jonas terpilih untuk menjadi the next The Giver. Dalam pemilihan The Giver sebelumnya, 10 tahun yang lalu, The Receiver/Sang Penerima sebutan bagi dia yang berada di bawah pengajaran Sang Pemberi, gagal melakukan tugasnya dan meminta Pelepasan. Dan semenjak itu belum ada yang pantas dan terpilih kembali, sehingga tidak banyak yang diketahui oleh anggota komunitas akan seperti apa tugas seorang The Giver, selain penugasan itu adalah penugasan tentang kearifan dan sebuah kerhormatan.
Ketika Jonas memulai latihannya, banyak hal baru dirasakannya, sehingga lambat laun dunia yang mereka bangun ini, yang terkendali dan teratur menjadi sebuah hal yang menjemukan bagi Jonas.
"Yah.. " Jonas harus diam dan memikirkannya baik-baik. "Kalau semuanya sama, tidak ada pilihan! Aku ingin bagun di pagi hari dan memutuskan! Tunik biru atau merah?"
Kemudian dia tertawa kecil. "Aku tahu ini tidak penting, apa yang kau kenakan. Ini tidak penting. Tapi.. "
"Proses memilihnya yang penting, bukan? " tanya Sang Pemberi.
(halaman 121)
Pada saat dia belajar dari Sang Pemberi dia melihat, merasa hal-hal yang berbeda dari yang mereka alami, dia melihat warna-warni yang indah, dia melihat kesenangan dan tawa, dan dia berharap dapat merasakan semua itu setiap saat, bahkan dapat dirasakan oleh orang lain juga. Sang Pemberi menjelaskan pada Jonas bahwa sebenarnya tidak akan selali kesenangan dan tawa yang indah. Pada akhirnya pembelajaran akan emosi yang lain pun diterimanya. Jonas melihat dan merasakan perang dan kematian, bencana alam dan kelaparan yang membuatnya merasa takut, sakit dan marah.
Jonas mendiskusikan pelajarannya dengan Sang Pemberi, satu-satunya orang yang diperbolehkan dengan siapa Jonas mendiskusikan pelajarannya sebagai penerima kearifan ini. Mengapa para tetua menciptakan komunitas ini? Keseragaman ini? Dan Sang Pemberi menjelaskan semuanya pada Jonas.
Sekarang Jonas melihat segala sesuatunya dengan pandangan baru, dia sudah tidak lagi meminum pil pengendali hormon itu. Saat bersepeda di taman, Jonas melihat warna-warni yang indah, rambut merah Fiona, bahkan mengernyit mengingat rasa sakit yang amat sangat ketika teman-temannya bermain perang-perangan. Teman-temannya tidak tahu apa itu perang, hanya sekedar permainan. Jonas semakin penasaran, apalagi yang disembunyikan komunitas. Sampai pada suatu hari, Sang Pemberi memberinya pelajaran mengenai Pelepasan. Hal ini memukul telak Jonas. Dengan bantuan Sang Pemberi, Jonas mencari dunia yang sebenarnya.
Saya tidak habis pikir bagaimana manusia membuat dan mengisolasi diri mereka dari emosi sebagai sesuatu yang mereka anggap mengancam. Memang manusia cenderung ceroboh, tapi manusia belajar.
Buku ini adalah gambaran yang tepat menurut saya akan hidup. Bahkan dizaman sekarang komunitas Jonas ada. Komunitas terkecil, keluarga, orang tua melarang ini dan itu kepada anak-anak, membatasi ini dan itu, menyembunyikan masa lampau. Alih-alih membuatnya sebagai pelajaran agar tidak mengulang kesalahan.
Saya suka buku ini, The Giver menggambarkan kekuatan yang bahkan bisa dimiliki anak berumur 12 tahun, untuk mengungkapkan kemunafikan manusia, meruntuhkan kerahasiaan, menerangi kebenaran dan merasakan kebebasan dibaliknya.
High recommended!
4⭐


Komentar
Posting Komentar