The Girl You Left Behind - Jojo Moyes

Judul : The Girl You Left Behind
Pengarang : Jojo Moyes
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 672 halaman
ISBN : 978-602-03-1549-2

Memilih buku ini karena sebelumnya sudah kenal Jojo Moyes dari buku Me Before You dan saya sangat suka. Tidak salah kalau saya pun lantas berasumsi kalau buku ini tak kalah bagus. Cover bukunya menarik, ada siluet gadis ala perawat dimasa penjajahan dulu, mengundang rasa ingin tahu.

Sinopsis :

Sophie adalah istri seorang pelukis bernama Edouard Lefevre. Pada masa Perang Dunia I, para lelaki dewasa tak terkecuali Edouard dipanggil untuk ikut berperang ke garis depan dan meninggalkan para wanita dan anak-anak. Sophie kembali ke kampung halamannya,  St. Peronne sebuah kota kecil di Prancis, bergabung dengan kakaknya Helen dan dua anaknya, yang juga ditinggal oleh suaminya maju ke medan perang dan adik bungsu mereka Aurelien, remaja yang menunggu umur untuk segera dipanggil membela negara. Tidak lama, kota mereka jatuh ke tangan Jerman, dan segala sesuatunya berubah.

Sophie dan Helen, serta warga St. Peronne berharap perang dan masa penjajahan Jerman hanya untuk beberapa bulan saja, namun hari berganti hari dan kemerdekaan sepertinya jauh dari harapan. Pasukan Jerman mulai menjarah harta benda dan ternak. Kebencian Sophie dan Helen semakin memuncak ketika mereka dipaksa untuk menyediakan makan malam bagi pasukan Jerman.

Saat itulah, Sang Kommandant Jerman melihat lukisan wajah Sophie yang dilukis Edouard. Sophie sengaja memajang lukisan itu diruang tamunya sebagai pengingat akan kehadiran Edouard.

Setiap malam, pasukan Jerman akan makan malam di rumah mereka, dan Sang Kommandant akan bercakap-cakap dengan Sophie seputar lukisan itu. Tak dapat dipungkiri, Sang Kommandant terobsesi dengan gadis dalam lukisan itu dan sadar sepenuhnya bahwa gadis itu adalah Sophie.

Keadaan bertambah runyam ketika terdengar berita,  bahwa Edouard ditawan pasukan Jerman. Dengan Lukisan itu sebagai imbalannya, Sophie membujuk Sang Kommandant untuk membebaskan suaminya. Namun Sang Kommandant, meminta lebih dari itu, Sang Kommandant ingin gadis dalam lukisan itu.

Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Sophie dan suaminya, Helen dan kedua anaknya, Aurelien dan warga St. Perrone menjalani hidup dengan tidak menyebut-nyebut nama Sophie lagi.

Hampir 100 tahun kemudian lukisan The Girl You Left Behind, terpajang di kamar Olive Halston, hadiah pernikahan dari suaminya David. Lukisan itu menjadi pengingat bagi Liv akan hidupnya yang bahagia dan sempurna, sebelum kesendirian Liv setelah kematian David yang tiba-tiba dan membuatnya terpuruk.

"Dia mirip denganmu.
Kau persis seperti itu..."
Halaman 235-236.

Saat ini, banyak orang-orang yang menuntut dikembalikannya harta benda milik mereka yang dulu dirampas oleh tentara Jerman, dan Paul McCafferty sebagai salah satu direktur perusahaan yang bergerak dibidang penelusuran jejak karya-karya seni yang hilang dan mengurus pengembaliannya kepada pemiliknya yang sah, menghadapi dilema saat keluarga Lafevre mengklaim lukisan Edouard "The Girl You Left Behind" yang ternyata kini dimiliki Liv. Paul dan Liv yang bertemu sebelum Lukisan itu membuat mereka saling membenci, berjuang mencari tahu kebenaran tentang lukisan itu, tentang kisah Sophie dan Edouard yang sebenarnya.
 
Buku ini yang lumayan tebal ini, terdiri dari 36 bab dan dibagi dua bagian, bagian pertama membahas tentang kehidupan Sophie dengan lukisan The Girl You Left Behind sedangkan bagian kedua membahas tentang Liv Halston yang mempertahankan lukisan itu.

Seperti buku Moyes sebelumnya, buku ini sangat menarik karena terus terang saat membacanya saya tidak tahu akan bagaimana  cara Liv mempertahankan lukisan tersebut sedangkan bukti-bukti yang kuat menyatakan lukisan itu dicuri oleh tentara Jerman.

Setelah memasuki bagian kedua, saya penasaran akan kisah Sophie pada bagian pertama yang berakhir dengan dipaksanya Sophie naik ke truk tentara Jerman dengan kasar dihadapan warga St. Peronne. Namun di bagian kedua, halaman demi halaman, bab demi bab akhirnya membuat segala sesuatunya menjadi terang. Sejalan dengan kisah persidangan Liv melawan Paul dalam mempertahankan Lukisan itu,  sedikit demi sedikit apa yang terjadi pada Sophie dan Edouard terkuak. Awalnya saya kesal pada Liv karena masih mempertahankan Lukisan itu, apalagi lukisan itu hanya pengingat akan David, sudah waktunya bagi Liv meninggalkan David dan move on. Dan tawaran uang yang banyak dapat menyelamatkan hidupnya dari hutang-hutangnya.

Pada akhirnya saya sangat menikmati buku ini dan dapat menutup halaman terakhirnya dengan rasa puas. Salut sekali lagi pada Moyes untuk ending cerita yang brilian ini.

"Pour Herr Kommandant, qui comprendra: pas pris, mais donne. "
Halaman 648.

Good job Jojo Moyes!
5⭐

Komentar

Postingan Populer