Review Buku : A SONG OF ICE AND FIRE #1 : A GAME OF THRONES

A SONG OF ICE AND FIRE #1 
A GAME OF THRONES 
By G.R.R. Martin 
Ori/Rp.77.968/253/24/03/2016    


Entah kenapa setiap melihat buku tebal saya mempunyai ekspektasi isinya bakalan seru. Dan sampai sejauh ini, masih begitu. Jadi dari fisiknya dulu, saya sudah tertantang. Memang buku ini bukan perkenalan pertama saya dengan ceritanya. Mata saya sudah didahului oleh telinga yang mendengar selentingan tentang serialnya yang berhasil menyabet banyak perhargaan di sebuah ajang perfiliman papan atas, EMMY AWARDS tahun 2015 silam, ditambah lagi banyak orang-orang (yang secara tidak sengaja terbaca) membahas tentang serial ini di medsos. Saat itu, saya sempat berpikir “Emang sebagus apa sih?” Sempat juga melihat cuplikan serialnya, namun saat itu belum ada chemistry.

Sampai sebuah toko buku OlShop langanan saya menawarkan buku ini, 1 paket dengan A SONG OF ICE AND FIRE #2, A Clash of Kings, dengan diskon harga yang lumayan. Ya sudah, jadilah kedua buku ini menghias rak buku saya.   Pertengahan February lalu, saya akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini dari sekian banyak buku koleksi saya yang belum terbaca. Aneh tapi nyata, saat buku yang belum dibaca hampir sama banyaknya dengan yang sudah dibaca, namun masih bingung memilih mau baca yang mana. Hadeehhhh… 

Keputusan untuk akhirnya membaca buku ini, adalah ketika melihat bahwa serial A Game of Thrones Season 6 akan mulai ditayangkan bulan April 2016 ini di sebuah stasiun TV. Season 6?? Ok, Googling!! 
Ternyata buku ini sudah dibuat menjadi 5 season dengan banyak episode yang berbeda-beda. Rata-rata 10 episode. Berarti saya sudah ketinggalan banyak! Saya juga sempat mengintip para pemain dalam serialnya. OK, sebagian wajah lama sebagian wajah baru bagi saya. Awalnya saya berpikir ini adaptasi dari 2 buku, yah,,, buku yang sudah ada ditangan saya ini, namun ternyata tidak. Ada 5 buku dan sang pengarang masih on process ke buku ke 6, saingan kayaknya sama Harry Potter.  


G.R.R. Martin dalam buku ini bercerita dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Melihat dari cover buku pertama ini, versi terjemahan Bahasa Indonesia, yang adalah lambang Klan Stark, salah 1 klan yang diceritakan ikut dalam permainan perebutan tahta, bersimbol Serigala Putih berlatar warna merah terang (cover versi aslinya adalah bergambar Naga berlatar warna Emas), awalnya saya berpikir main character-nya adalah dari klan ini. Memang si Pencerita lebih banyak dari Klan Stark. Namun ada juga dari Klan yang lain. Dan seiring membaca halaman demi halaman, bab demi bab, dugaan saya salah.

Tidak ada main character dalam buku ini, atau dalam kisah ini, berhubung diceritakan dalan lebih dari 1 buku. Setiap orang punya peran masing-masing yang sayangnya sangat menentukan. Dugaan-dugaan saya anehnya tidak ada yang tepat. Situasi dan kondisi dapat berubah secara drastis 360 derajat tanpa kehilangan alur. Tokoh protagonis bisa berubah menjadi antagonis. Lord Eddard “Ned” Stark (namanya terdengar seperti Edward ya..) yang awalnya saya duga sebagai the main character berakhir, dengan kepala dipancung sebelum 5 bab berakhir, dan cerita masih bergulir. Disitu kecepatan membaca saya sedikit lebih cepat. Penasaran siapa tahu tiba-tiba dia ternyata ga jadi di bunuh. Salah orang gituu, namun apa daya… Betewe, di filmnya Lord Eddard Stark diperankan oleh Sean Bean. Kenalkan? Dia sudah banyak membintangi film-film dengan genre seperti ini, kehidupan kerajaan, seperti The Lord Of Rings, Troya dan masih banyak yang lain. Emang wajahnya sangat Kesatria sekaleee…

Saat membaca, saya banyak berhenti disetiap bab. Karena sebuah bab akan selalu ditutup dengan sebuah tanda tanya akan apa yang akan terjadi kemudian, namun sayangnya saat membalik halaman berikutnya, kita akan dibawa ke situasi dan kondisi yang berbeda, kebelahan dunia yang lain dan mendengar, menjelajah, melihat kondisi yang lain namun tetap koheren.  

Buku ini setebal 910 halaman (belum prolog, Glosarium, sampiran pendukung dan ucapan terimakasih penulis). Saya kagum bagaimana G.R.R. Martin bisa betul-betul membuat setiap karakter si pencerita begitu berbeda. Semua dengan sifat dan karakteristik sendiri. Pencerita dalam buku ini adalah Lord Eddard “Ned” Stark, Catelyn istrinya, Jon Snow anak haramnya, Sansa dan Arya putrinya, dan Bran putra ke-4nya, ditambah dengan 2 sudut pandang di luar Klan Stark, yaitu Daenerys Targaryen dari Klan Targaryen dan Tyrion Lannister dari Klan Lannister. Saya sempat bertanya-tanya, Martin lebih mirip sifatnya kesiapa? Hehehe…  

Di akhir cerita buku pertama ini, sebuah pertanyaan besar membuat saya cepat-cepat beralih ke buku 2, tentang asal usul Jon Snow, yang disebut anak haram Lord Eddard Stark. Dan kata-kata Lyanna, adik Lord Stark itu, “Berjanjilah pada ku, Ned…” bisiknya diranjang yang bersimbah darah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya (hal. 708). Namun setelah kematian Lord Eddard Stark, bagaimana itu akan terjawab?? Atau mungkin, saya salah lagi??? *baca buku a clash of kings  

Sedikit kurang setuju dengan kehidupan Daenerys Targaryen yang bisa menetaskan 3 telur naga itu dan menyusu padanya, “Imposible banget… begitu. Dua naga sekaligus menyusu pada seorang wanita?? Ya, putus lah!! Hehehe …” tapi begitulah ceritanya. Karakteristik yang tak kalah menarik adalah si Lannister, Tyrion, si cebol yang juga dijuluki si Setan Kecil yang mempunyai 2 warna mata yang berbeda, biru dan hijau. Sepertinya dia punya peran penting disini. Mungkinkah?? Atau mungkin, saya salah lagi??? *baca buku a clash of kings  

Secara keseluruhan saya kasih bintang 4 dari 5, buat buku A Song of Ice and Fire #1 ini. Berharap di buku ke-2, ceritanya tidak kalah seru dan semoga saya punya jagoan baru. Jon? Sepertinya tidak, sudah keburu ilfil karena sempat mengintip dalam filmnya, diperankan oleh Kit Herington. Salah pemain sepertinya. Dia itu yang bermain dalam film Pompeii. Kurang jantan kan!!?? Hmmm… mungkin si Cebol aja deh, tapi tetap “you took my heart away, Ned..”


Komentar

Postingan Populer