Review buku : PRIDE AND PREJUDICE

PRIDE AND PREJUDICE 
JANE AUSTEN 
Ori/Rp.84.200/254/10/04/2016    


Pride And Prejudice adalah sebuah novel roman klasik yang sudah malang melintang sejak tahun 1913. Entah bagaimana kisah perjalanannya dimasa awal terbit, namun sekarang, buku ini  punya nama besar, sama besar dengan nama pengarangnya, Jane Austen. Jika disurvey, saya yakin 98% mereka akan menjawab judul novel ini sebagai jawaban atas 1 hal yang terpikir tentang Jane Austen, atau sebaliknya. 
“Yes, I’m sure.” 

Membaca novel ini membawa kita kembali ke kehidupan bermasyarakat di Inggris, yang pada saat itu, sangat mementingkan status sosial. Mereka dengan status sosial menengah kebawah akan berusaha meningkatkan statusnya dengan mencari penghasilan tahunan yang berlimpah tentunya, namun cara cepat untuk menaikkan status sosial adalah dengan menikahkan putra-putrinya dengan ahli waris keluarga bangsawan penguasa-penguasa tanah bergelar Earl atau Lord, yang tentunya berpenghasilan ribuan pound setahun. Sehingga tidaklah mengherankan jika gadis-gadis belasan tahun sudah bergenit-genit ria didepan para bangsawan atau prajurit dikota-kota. Berusaha mendapatkan undangan ke pesta dansa dan berdandan habis-habisan agar bisa memikat hati salah satu Lord ternama. Bahkan para orangtua terang-terangan bergaul dengan masyakat kelas atas agar jika beruntung, bisa menjodohkan anak-anaknya demi mengangkat martabat keluarga.

Status begitu dijunjung tinggi dan menjadi penentu utama dalam pergaulan. Mereka yang dari kelas sosial atas akan memandang rendah mereka yang tidak sekelas, hanya akan bertegur sapa seadanya demi kesopanan semata. Kesombongan dan keangkuhan mereka dianggap lumrah, karena mereka memang punya harta dan penghasilan yang melimpah yang dapat dibanggakan. Sedangkan bagi mereka dengan kelas hidup menengah ke bawah, hanya mampu berharaplah mempunyai rupa yang cantik rupawan, karena hanya itulah yang bisa membutakan mereka  yang berkelas tinggi agar mau melirik dan mungkin jika beruntung, jatuh hati.

Temukan seorang bangsawan muda berpenghasilan tahunan yang besar dengan kesopan yang baik, maka akan menjadi rebutan gadis-gadis. Para orangtua akan dengan sangat menggebu-gebu menjodohkan anak-anaknya tanpa melihat sifat aslinya. Gelar kebangsawanan dan penghasilan yang besar dalam setahun seakan-akan sudah menjamin sifat dan perilaku yang baik, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi.    

Ada sebuah fakta menarik dalam masyarakat kala itu, bagi keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris harta keluarga, seberapa banyak pun putri yang dimilikinya, maka warisan akan jatuh ke anak laki-laki adik perempuan si ayah, jika si ayah meninggal dunia. Berbahagialah putra-putra yang punya Paman tanpa putra, karena merekalah pewaris harta yang bahkan tidak dengan susah payah dikumpulkannya. Serasa mendapat durian runtuh, begitulah kira-kira. Biasanya, agar harta itu tetap dimiliki keluarga si Paman, maka perkawinan antar sepupulah jalan keluarnya.

Kisah ini adalah kisah cinta yang kuat ditengah-tengah status sosial yang menghadang, diuji dan didera prasangka yang pertama tumbuh dan mengakar begitu kuat jauh sebelum cinta bersemi. Prasangka yang timbul dari kecenderungan masyarakat kelas tinggi dalam memandang dengan penuh keangkuhan masyarakat kelas bawah, tidak tahu diri dan hanya menginginkan harta dan status sosial semata. Namun beri cinta kesempatan kedua, waktu, maka prasangka dan tipu muslihat akan kalah. Harga diri, martabat, kelas sosial, rasa malu akhirnya tunduk terhadap Cinta.

Dalam kisah ini, saya salut bagaimana Mr. Darcy dapat menekan ego dan keangkuhannya demi mengakui perasaannya pada Elizabeth. Bahkan saat dipermalukan sedemikian rupa oleh gadis dari keluarga kelas menengah itu, tidak lantas menghapus perasaannya. Namun dengan besar hati berusaha menjelaskan semua prasangka yang dituduhkan padanya, bahkan berkat cintanya, masih bersedia memberi bantuan yang mungkin tidak pantas diterima orang yang sudah berlaku sekejam itu.

Lain hal dengan Elizabeth Bannet, kecemerlangan pikirannya yang sebagian orang mengganggapnya sebagai kelancangan dan kurangya etika, menjadikannya berbeda dengan gadis-gadis yang berusaha mati-matian mencari perhatian para pria bergelar bangsawan. Namun prasangka dan kebencian sudah terlebih dahulu bercokol dihatinya, sehingga tidak ada hal lain yang dimilikinya bagi Mr. Darcy selain rasa muak dan benci. Sampai waktu, membuka matanya dan mulai melihat sisi lain dari diri Mr. Darcy.

Kisah ini berakhir happy ending, dan saat menutup halaman terakhir saya bisa berpamitan dengan puas dengan tokoh-tokohnya. Tidak ada “what if” yang terpikir dalam pikiran saya untuk jalan ceritanya, semua pas pada porsinya. Bahkan dengan perasaan lega dan puas beralih ke buku yang lain. Novel ini sudah difilmkan, sebagai mana sebagian besar novel-novel Austen yang lain. Namun melihat para pemainnya (saya belum menonton filmya) saya rasa bukunya jauh lebih bagus, karena pemerannya tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Yah,,, saya akui, dalam menonton film, saya sangat terpangaruh pada pemain/pemeran filmnya, apalagi film adaptasi dari buku. Jika tidak sesuai harapan dan bayangan, akan kecil kemungkinan bagi saya untuk menontonnya. Jadi akhir kata, novel ini adalah sebuah buku bagus yang layak dibaca dan sangat saya rekomendasikan.


Komentar

Postingan Populer