Sirkus Pohon - Andrea Hirata.

Sirkus Pohon - Andrea Hirata.

Judul : Sirkus Pohon
Pengarang : Andrea Hirata
Terbit : Agustus 2017
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 383
ISBN : 978 602 291 409 9

Ini adalah novel ke-10 Pak Cik Andrea Hirata. Sebelum terbit sudah lama digaung-gaungkan kedatanganya. Penerbit Bentang Pustaka benar-benar membuat selebrasi penyambutan yang wah untuk novel ini, sebulan sebelum terbit sudah ramai diperbincangkan.

Saya belum pernah melihat buku lain yang acara perilisannga seheboh ini. Mulai dari judul yang sengaja disembunyikan, kuis mulai dari tebak judul dengan pemberian clue yang beragam. Video Pak Cik yang bercerita tentang latar belakang buku dan tentang apa buku itu. Poster-poster yang meriah, pilihan quote-quote dari buku-buku Pak Cik sebelumnya sampai pemburuan buku yang dilakukan di berbagai kota. Tak ayal,  sebagai salah satu penyuka buku Pak Cik, semua quiz itu saya ikuti.  Walau tidak ada yang menang. Tapi euforianya sangat meminta perhatian dan sangat berhasil. Saya tidak pernah sepenasaran ini akan buku yang akan terbit sebelumnya.

Sekitar seminggu sebelum release,  masuk tahap PO ber ttd,  ada juga PO+ttd dan kaos,  dan masih rapih, judul belum bocor. Karena memang penasaran dan saya rasa ini wajib punya,  saya pesan 2. Satu buat saya,  satu lagi buat kado ke teman.

Sampai akhirnya, bukunya keluar dan judulnya adalah,  jeng jeng...  Sirkus Pohon, (dalam kuis tebak judul saya tebaknya Komidi Putar 😂).

Setelah release secara resmi di akun IG Bentang Pustaka (saya keburu lihat penampakan bukunya di toko-toko online,  yang tidak perduli tetek bengek selain pejualan yang laris manis) cover bukunya bagus. Sangat aikonik. Sesuai dengan poster-posternya sebelumnya (dalam hati saya mengutuki diri sendiri kenapa tidak bisa tebak judulnya) Sirkus Pohon, digambarkan pohon yang digelayuti oleh para pemain sirkus, mulai dari badut,  pemain sembur api,  pemain akrobat, si joker, ada juga tenda sirkus, pemain engrang,  pemain sepeda  beroda satu sambil berjugling ria dan ornamen-ornamen sirkus lainnya.


Berlatar putih jadinya covernya sangat eye catching. Saat melihat gambar badut di tv,  spontan saya berseru "sirkus pohon"! Aikonik!!!

Jadi ceritanya begini:
Si Sobrinudin "Hob" bin Sobirinudin yang lugu dungu, yang cuma berijazah SD, yang dibully habis-habisan sama adiknya Azizah agar segera mencari pekerjaan tetap itu bercerita akan hidupnya. Tujuannya adalah mendapat pekerjaan tetap yaitu pekerjaan yang ada seragamnya, ada pulpen disakunya, ada jam kerjanya, ada tas kerjanya, bergaji tetap per bulan,  ada THR-nya, ada lemburnya, ada naik gajinya, ada tunjangannga, ada cutinya, ada ongkos berobat ke puskesmasnya, ada mandornya, kerja pake kemeja lengan panjang, dimasukkan kedalam, pakai sepatu!!!

Namun kegigihannya untuk mendapatkan pekerjaan tetap itu, baru membara ketika Dinda, gadis yang dilamarnya, mengajukan syarat agar Sobri mencari pekerjaan tetap terlebih dahulu sebelum menikah. Kehidupan Sobri dalam mencari pekerjaan bersinggungan dengan Tara, gadis berjiwa seni, yang hidup bersama ibunya dan berusaha menjalankan bisnis keluarga,  Sirkus keliling. Tara saban hari mencari wajah pembelanya diantara wajah bocah-bocah sebaya selama 10 tahun. Pembela yang pertama kali bertemu di taman pengadilan agama.

Adalah Tegar, bocah lelaki yang membela Tara itu, pun melakukan hal yang sama. Cinta pada pandangan pertama yang menghantui keduanya untuk saling menemukan, pelarian dan harapan yang dipegang teguh, akibat perceraian orang tua yang membuat keduanya semacam mencari pegangan hidup untuk terus bertahan.

Saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang jalan ceritanga, saya tidak mau menebarkan spoiler, karena itu adalah hak pembaca sendiri, jadi saya akan memerikan kehormatan tersebut buat dicari tahu sendiri oleh pembaca.
-----

Sebelumnya dikatakan bahwa novel ke-10 ini memerlukan waktu yang lama bagi Pak Cik untuk merampungkannya konon perlu 2 tahun. Namun saya harus terus terang bahwa buku ini jauh dari memuaskan mengingat acara penyambutan nya yang Wahid itu, menurut saya buku ini jauh dibawah tetralogi Laskar Pelangi.

Memang masih khas Pak Cik Andrea Hirata, saya masih tersenyum, tertawa bahkan terbahak. Namun mengingat buku Laskar Pelangi, cerita Sirkus Pohon ini belum mencapai setengahnya. Ada kerancuan dalam sistem pewaktuan menurut saya, alur maju mundurnya tidak rapih sehingga membuat saya bingung dan objek yang diceritakan tidak sekali dua kali membuat salah tafsir, kseperti contoh pohon delima yang menjengkelkan itu ternyata hanya satu, saat saya membacanya saya pikir ada dua, juga terkait dengan lukisan yang dibuat oleh Tara sebanyak 120 buah selama 10 tahun penantiannya untuk bertemu dengan sang pembela.

Selain itu ada juga waktu-waktu yang terasa janggal. Klimaks ceritanya juga kurang, saya memang terkejut kalau Taripol akhirnya melakukan sesuatu dengan benar. Akhirnya! Namun selain itu,  biasa saja. Cerita tentang penasehat Gastori yang menyamar itu saya tidak tahu apa dan kenapa. Mungkin akan ada penjelasan berikutnya di buku selanjutnya,  mengingat buku ini adalah Tetralogi.

Tetapi satu hal yang pasti dari buku ini saya menyukai tokoh-tokoh yang ada didalam seperti si Sobri dan Dinda, cerita yang menarik hanya saja, mungkin karena sudah hidup di daerah yang lumayan modern hal-hal yang berbau gaib sepertinya agak terlalu sulit untuk dipercaya namun apa yang terjadi pada Dinda tetap menjadi sebuah cerita yang unik. Lain halnya cerita antara Tegar dan Tara, karena berkisah tentang cinta pertama yang berjumpa hanya 1 kali, pada umur 10 tahun dan terbayang-bayang sampai 10 tahun kemudian lebih mudah saya pahami, walau hal ini mengingatkan saya pada film Kungfu Hustle yang di situ juga, seorang anak perempuan bisu yang di bela oleh seorang anak laki-laki yang pada akhir ceritanya mereka bertemu dan akhirnya jatuh cinta kembali, demikian pula dengan Tara dan Tegar.

Ada tokoh-tokoh lain semacam Taripol, Azizah dan suaminya Suruhudin, Calon-calon kepala desa, si Adun yang memberikan warna-warna berbeda dan fresh, oh ya ada juga keponakan Sobri, si Yubi yang cadel yang berhasil membuat saya tertawa sekali dua kali.

Entah apa yang terjadi dengan Pak Cik Andrea Hirata yang saya rasa tidak bisa mengulang kesuksesan dari tetralogi Laskar Pelangi (memang saya belum membaca 5 buku lagi karya Pak Cik). Tapi menurut saya buku ini karena acara penyambutan yang begitu meriah membuat ekspektasi saya akan buku ini sangat tinggi dan ketika membacanya saya sedikit kecewa. Saya butuh waktu 3 hari membaca buku ini karena saya bolak-balik melihat kebelakang lagi untuk melihat ceritanya Apa ada yang salah yang tidak saya ingat karena kerancuan yang saya temukan di dalam ceritanya. Secara garis besar saya memberi buku ini 3⭐.


Satu hal yang menarik juga dari buku ini adalah pada bagian belakang buku disematkan beberapa petikan dari orang-orang yang membaca buku Laskar Pelangi dari berbagai negara ada dari Turki, Jerman, Switzerland, Portugal, Australia, Jepang, China, China Taipei, Bulgaria, Hungaria, Arab, Vietnam, India, Etopia, Inggris dan Amerika. Bahkan ada juga dari negara Bulgaria, Nigeria. Disini juga diberikan cover-cover buku Laskar Pelangi yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan bahkan akan diterbitkan di negara-negara lain seperti Kenya, Myanmar dan Ukraina. Sangat membanggakan!

#resensisirkuspohon
#sirkuspohon

Komentar

  1. baca yg novel Ayah lbh bagus dari tetralogi Laskar Pelangi (menurut ku)

    BalasHapus
  2. baca yg novel Ayah lbh bagus dari tetralogi Laskar Pelangi (menurut ku)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Makasih masukannya mba.. 😊 Ntar saya baca. Skrg buku2 pada mahal, jd belinya mikir2 bgt... Hehehehe...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer