POPE JOAN by Donna Woolfolk Cross
POPE JOAN
Donna Woolfolk Cross
Sudahkah anda membaca buku ini? Saya pertama tertarik karena judulnya yang kontroversial, Paus perempuan??? Is it possible? Wah, secara instingtif saya rasa ceritanya pasti seru. Terlepas dari fiksi atau fakta. Kalau fiksi pasti seru, tapi kalau Fakta? Wah,,, lain cerita, a must have! Kenapa saya belum pernah mendengar ulasan mengenainya?
Segera saya membacanya begitu sampai di tangan, melihat keterangan tambahan di bawah judulnya (yang tidak saya perhatikan sebelumnya, berhubung saya membelinya secara online) “Sebuah Novel” oke! Fix. It’s a novel... saya baca.
Mulai dari Prolog, diceritakan secara runut, belum banyak kejutan, namun seiring perjalanan cerita semakin menarik. Jelas diceritakan pada saat itu sekitar pada abad kesembilan sekitar tahun 814 Masehi, Eropa masih merupakan satu negeri, dimana Jerman, Italia, Spanyol, Prancis belum menjadi negara terpisah. Bahasa–bahasa Roman belum berevolusi dari bahasa induknya Latin. Bahasa Prancis dan Spanyol atau Italia belum lahir. Yang ada hanyalah beragam bentuk turunan bahasa Latin serta serangkaian dialek lokal.
Dan hidup pada masa-masa itu penuh dengan kekacauan dan sangat sulit bagi perempuan. Zaman Misogynistic atau zaman yang membeci perempuan. Masyarakat mendapatkan landasannya dari tulisan-tilisan para bapa gereja seperti St. Paulus dan Tertullianus yang anti perempuan :
"Dan tahukah kau bahwa kau ini adalah Hawa? ... Kaulah gerbang iblis, penghianat yang makan dari buah pohon terlarang dan manusia pertama yang melanggar Hukum Ilahi. Kaulah perempuan yang merayu Adam yang bahkan tidak berani didekati oleh Iblis ... karena kematian yang sudah selayaknya kau terima, Putra Tuhan pun harus ikut mati.”
Darah menstruasi dipercaya dapat membuat anggur terasa masam, panen gagal total, mata pedang tumpul, besi berkarat, racun yang tidak dapat disembuhkan dan berbagai kesialan lain yang dianggap kuat disebabkan oleh perempuan. Dengan sangat sedikit pengecualian, perempuan diperlakukan sebagai mahkluk yang lebih rendah, yang tidak memiliki hak legal atau hak milik. Hukum bahkan memperbolehkan suami-suami memukuli istri-istri mereka. Perkosaan disamakan dengan pencurian tingkat ringan. Gadis umur 13 tahun sudah dianggap matang untuk menikah dan dinikahkan oleh keluarganya. Pendidikan untuk kaum perempuan tidak dianjurkan karena dianggap tidak alami bahkan berbahaya.
Karena itu tidaklah mengherankan kalau kaum perempuan yang diberkahi keberanian untuk mengakhiri penindasan gender ini dengan memilih menyamar sebagai seorang laki-laki.
Adalah Johanna dari desa Ingelheim, Frankland. Joan demikian dia biasa dipanggil, seorang wanita yang luar biasa mandiri, cerdas dan berani. Haus akan ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu yang luar biasa, mendorongnya untuk mendapatkan hak setara dengan laki-laki, dengan nama John Anglicus, dia naik ke tampuk tertinggi kekuasan religius kekristenan masa itu, menjadi Paus. Dia dijuluki sebagai Paus Yohanes VIII, Papa Populi atau Paus Rakyat. Tujuan utama pelayanannya adalah memerangi kemiskinan dan kebodohan bagi semua orang tanpa memandang bulu, baik laki-laki maupun perempuan (sebuah terobosan yang dilakukannya adalah membuka sebuah sekolah untuk kaum perempuan dan diberi nama St. Katarina), orang Roma maupun orang Yunani, Saxon atau orang manapun yang punya keinginan untuk belajar.
Buku ini juga menceritakan segala politik yang terjadi dalam hubungan Paus dan Kaisar yang memerintah saat itu. Campur tangan Kaisar dalam pemilihan Paus dan adanya praktik-praktik jual beli jabatan Uskup bahkan dalam posisi-posisi Kepausan.
Kisah Joan berakhir tragis, dalam penyamarannya sebagai laki-laki, dia mati-matian menyembukan identitas aslinya, bagaimana dia merasakan tubuh perempuannya yang berusaha menghianatinya. Bahkan saat akhirnya dia menyadari cintanya yang berbalas pada Gerold, seorang Count yang menampungnya saat dia memulai awal pembelajarannya di kota asing. Kisah cinta keduanya berujung pada kehamilan Joan saat dia sedang memegang tampuk kepemimpinan di Roma. Dengan banyaknya orang-orang yang ingin merebut kursi kekuasaan itu, Joan akhirnya lengser dengan cara yang tragis, kematian Gerold dalam sebuah jebakan bersamaan dengan bayinya yang lahir prematur dan dalam keadaan meninggal juga membawa Joan serta.
Kisah Joan ini dan terungkapnya identitas aslinya, yang adalah seorang perempuan, secara mati-matian di tutupi oleh banyak orang pada masa itu, bahkan dalam Liber Pontificalis atau kitab Para Paus, masa pemerintahan dan bahkan nama Joan tidak disebut-sebut. Dihapus sehingga tidak ada orang yang akan mengingatnya. Banyak kebiasaan-kebiaan Paus yang oleh karena Joan diubah dan diperbaharui guna mencegah kecolongan yang dianggap memalukan ini. Namun tidak sedikit bukti-bukti yang menyatakan bahwa Pope Joan adalah sebuah Fakta. Jadi, kembali ke pertanyaan; “Apakah Pope Joan memang ada?”
“Kapan pun kau berjumpa dengan sebuah legenda, kau bisa yakin, jika kau mendalaminya hingga ke dasarnya, kau akan menemukan sejarah.”
Vallet de Viriville.
Pada bagian akhir buku ini Donna Woolfolk Cross menulis berbagai fakta yang terkandung dalam buku ini dalam bagian Catatan Pengarang. Namun dia juga mengakui bahwa ada sebagian cerita yang ditambahkannya untuk mengisi kekosongan cerita yang tidak dapat dan tidak ditemukan lagi catatan apapun yang dapat mengisinya.
Namun ini adalah sebuah kisah yang indah. Kisah tentang perempuan dan hak azasinya. Perjuangan akan Emansipasi wanita. Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan berupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi.
Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.


Komentar
Posting Komentar