Review buku : Little Woman - Louisa May Alcott

Little Woman - Louisa May Alcott
Scd/Rp. 27K/232/22/11/2015


Margareth "Meg" March yang sangat cantik, Josephine "Jo" March si tomboy, Elisabeth "Beth" March si pemalu namun pandai bermain piano, dan Amy Curtis March si bungsu yang sangat menjaga tata krama adalah 4 bersaudara dengan keteguhan hati menjalani hidup sesulit apapun.

Ayahnya dipanggil bertugas menjadi pendeta di medan perang, mengubah hidup keluarga ini. Meg menjadi pengasuh anak-anak keluarga King dan menekan habis harga dirinya yang dulu sempat mengecap kenyamanan hidup sebelum perang mengubah segalanya, Jo bekerja untuk Aunt March dan menggantikan peran ayahnya, Beth yang bertubuh lemah dan sakit-sakitan membantu mengurus rumah, sedangkan Amy, si bungsu yang manja, masih terlalu muda untuk bekerja, melanjutkan sekolah dengan harapan keluarga mereka akan kembali seperti dulu. Sedangkan ibunya hanyalah penjahit biasa.

Salah satu adegan yang sangat menyentuh bagi saya adalah ketika Jo memotong rambut panjangnya dan menjualnya untuk menambah biaya berobat ayahnya yang sakit di medan perang. 

Segala persoalan hidup mereka lewati dengan selalu mengingat ajaran ayah ibunya. Hidup sopan dan selalu rendah hati, karena mereka percaya, semua kesedihan akan berganti dengan kegembiraan.

Louisa May Alcott (1832-1888) asal Massachusetts Amerika ini menggambarkan ke-4 saudaranya dalam karyanya ini. Dengan dia sendiri sebagai Jo. Ceritanya pun tidak jauh dari kisah hidup mereka yang sering mengalami kesulitan keuangan.

Cerita ke-4 gadis remaja ini, berlanjut dalam bukunya yang berjudul "Good Wives" yang menceritakan kisah mereka saat menjadi wanita-wanita dewasa dan menikah.

Buku ini termasuk dalam mahakarya dunia, telah difilmkan sebanyak 4 kali, antara lain tahun 1933, 1949, 1978 dan 1994. Juga dalam TV Series, Opera Amerika bahkan dalam kartun Jepang.

Buku ini bergenre famili drama. Tokoh-tokohnya yang adalah wanita, sangat menggambarkan kemandirian dan perjuangan hidup yang tidak hanya bisa dilakukan oleh kaum pria.

Sedikit mengenai Louisa, dia tidak menikah, dia berkata :"Lebih baik aku menjadi perawan tua, yang bebas dan mengayuh bidukku sendiri"

Dalam karya-karyanya yang lain, ia banyak memaparkan kemapuan perempuan yang hidup mandiri dan sering mengemukakan permasalahan tentang "suffrange" atau gerakan penuntutan kesamaan hak bagi perempuan.

Karya-karyanya yang lain yang bernuansa sama seperti: An Old Fashion Girl, Little Men, Eight Cousins, Rose in Bloom, Jo's Boys dan banyak lagi yang sebagian diterbitkannya dengan menggunakan nama samaran.


Komentar

Postingan Populer